Minggu, 29 Januari 2012

BK


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG MASALAH.
Dalam setiap lembaga pendidikan formal seperti SMP dan SMA pasti terdapat layanan Bimbingan dan Konseling. Bimbingan dan konseling merupakan bidang layanan kepada peserta didik, layanan untuk membantu mengoptimalkan perkembangan mereka. Tanpa pembelajaran di sekolah anak-anak dan remaja akan berkembang, tetapi perkembangannya sangat minim. Dengan pembelajaran di sekolah perkembangannya akan jauh lebih tinggi, dan ditambah dengan pemberian layanan bimbingan dan konselig diharapkan perkembangannya mampu mencapai titik yang optimal, dalam arti setinggi-tingginya sesuai dengan potensi dan bakat yang dimiliki oleh para siswa. Layanan Bimbingan dan konseling menfokuskan pada pengembangan segi-segi pribadi dan social serta pemecahan masalah secara individual. Dengan layanan tersebut diharapkan peserta didik berada dalam kondisi prima. Sehingga mereka dapat belajar mengembangkan dirinya secara prima pula.
Demikian juga dengan SMP Muhamadiyah 3 Yogyakarta, dimana didalamnya terdapat layanan bimbingan dan konseling. Namun keberadaan layanan tersebut apakah sudah maksimal dalam pekerjaan dan tugasnya sebagai salah satu bagian dari pendidikan?. Dimana dilain pihak Layanan bimbingan dan konseling pada SMP Muhamadiyah 3 Yogyakarta ini memang diharapkan mampu mengoptimalkan potensi peserta didik.
B.     RUMUSAN MASALAH
Dari uraian diatas maka rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
    1. Bagaimana eksistensi BK di SMP Muhamdiyah 3 Depok?
    2. Masalah-masalah apa saja yang sering dihadapi siswa SMP Muhamdiyah 3 Depok?
    3. Bagaimana upaya pemecahan permasalahan yang dilakukan oleh BK SMP Muhamdiyah 3 Depok terhadap permasalahan yang sedang dialami oleh siswanya?
    4. Usaha-usaha apa saja yang sedang digalakan untuk tetap mengoptimalkan Fungsi BK di SMP Muhamdiyah 3  Depok ?














BAB II
PEMBAHASAN

  1. Eksistensi BK di SMP Muhamdiyah 3  Yogyakarta
BK di SMP Muhamdiyah 3  Depok diisi oleh 2 orang guru. Dimana masing-masing guru diberi tanggung jawab untuk membimbing 10 kelas. Hal ini dimaksudkan untuk mengoptimalkan bimbingan-bimbingan kepada siswa. Seperti halnya sekolah-sekolah lain bimbingan-bimbingan kepada siswa dilakukan tidak hanya dilakukan kepada siswa yang bermasalah, baik dalam proses belajar, social, pribadi, karier ( kelanjutan studi ) tapi juga kepada siswa–siswa yang tidak bermasalah. Bimbingan konseling dilakukan kepada semua siswa dimaksudkan agar siswa-siswa dapat menghindari siswa dari berbagai masalah.
Bimbingan-bimbingan kepada siswa rutin dilakukan oleh pihak BK dengan memasukan pelajaran BK yang mana dalam satu minggu setiap kelas mendapatkan satu kali pertemuan yang pada pertemuan itu melakukan diskusi dalam kelas. Bimbingan-bimbingan yang dilakukan dengan menggunakan berbagai cara, diantaranya dengan melakukan pendekatan pada siswa seperti dengan bergaul dengan siswa, saling bertegur sapa, serta saling bertanya. Bimbingan juga bisa dilakukan oleh guru BK secara tidak langsung yaitu dengan memberikan contoh yang baik kepada siswa. Seperti dalam hal berpakaian. Para guru BK harus selalu memakai pakaian yang rapi supaya para siswa memberikan penilaian positif terhadap guru tersebut dan para siswa meniru untuk berpakaian yang rapi. Namun dalam pelaksanaanya BK juga mengalami berbagai masalah, diantaranya yaitu dimana jumlah guru BK dalam satu sekolahan sangat kurang memadai sehingga tidak bisa mengontrol semua kegiatan siswa dan juga adanya guru mata pelajaran yang merangkap menjadi guru BK. Misalnya salah satu guru mata pelajaran IPS yang merangkap sebagai guru BK, dan untuk mengantisipasi hal ini, pihak BK bekerja sama dengan wali kelas. Yaitu dengan cara setiap wali kelas memberikan laporan tentang keadaan kelas serta siswanya sehingga memudahkan para guru BK untuk mendapatkan data yang valid. Karena setiap siswa pastilah mempunyai masalah dan sebelum siswa itu konsultasi ke guru BK tapi melalui wali kelas dahulu dan akan dicatat dan dilaporkan kepada pihak BK untuk ditindak lanjuti.
  1. Permasalahan Siswa.
Permasalahan-permasalahan yang sering dihadapi oleh para siswa SMP Muhamdiyah 3  Depok umumnya sama seperti masalah yang sering dihadapi oleh siswa-siswa SMP lainnya. Permasalahan yang sering dihadapi biasanya antara lain adalah permasalahan kedisiplinan siswa dalam hal berpakaian, kenakalan remaja, melakukan corat caret tembok, dan berkelahi. Dalam hal kenakalan remaja, disetiap sekolah pasti adanya geng (kelompok). Yang biasanya selalu membuat masalah. Baik dalam lingkungan sekolah, maupun masalah dengan pihak sekolah lain. Seperti kasus yang baru-baru saat ini dimana sering terjadinya tawuran antar pelajar, yang melibatkan geng ( kelompok ). Dalam mengatasi masalah-masalah seperti ini sekolah mempunyai sanksi yang berupa teguran, dilaporakan kepada orang tua, siswa mendapatkan skorsing selama 3 hari sampai 1 minggu dan yang paling terakhir adalah dikeluarkan dari sekolah. Masalah-masalah lai yang sering timbul dalam sekolah yaitu pada saat proses pembelajaran dimana dalam proses pembelajaran tersebut mengalami kesulitan dalam menerima materi pelajaran.
  1. Upaya Pemecahan Masalah Siswa.
Dalam upaya pemecahan masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh siswa, pihak BK tidak hanya diberikan secara langsung, tetapi juga dilakukan secara tidak langsung. Missal dalam hal kerapian berpakaian. Para guru BK selalu mengenakan pakaian yang rapi, hal ini dimaksudkan agar para siswa mau meniru apa yang dilakukan oleh para guru mereka. Sedangkan upaya langsung yang dilakukan kepada para siswa yang melanggar tentang pelanggaran dalam hal kerapian, pihak BK tidak segan-segan untuk menegur para siswa yang tidak rapi.
Dalam hal kenakalan remaja, kasus-kasus yang sering didapatkan adalah perkelahian, tawuran antar pelajar, maupun kenakalan lain seperti menyimpan gambar-gambar maupun video porno. Dalam kasus-kasus seperti ini pihak sekolah selalu menerapkan aturan-aturan keras. Agar memberikan efek jera bagi siswa yang melanggar. Beberapa sanksi terkait kasus-kasus kenakalan remaja seperti ini adalah antara lain berupa teguran yang sangat keras. Kemudian sanksi yang lebih berat lagi antara lain berupa pemanggilan terhadap orang tua siswa yang memiliki masalah tersebut dan disertai dengan penulisan surat pernyataan. Dan jika siswa tersebut masih mengulangi pelanggaran tersebut lagi maka pihak sekolah tidak segan-segan akan mengembalikan siswa kepada orang tuanya atau dengan kata lain siswa tersebut dikeluarkan dari sekolah.
  1. Upaya Yang Sedang Dilakukan Untuk Kedepanya
Upaya-upaya yang dilakukan dalam melaksanakan tugas BK kedepannya adalah lebih meningkatkan dan mengoptimalkan kemampuan BK dalam mengatasi masalah-masalah yang dihadapi oleh siswa.  Hal ini dilakukan dengan cara meningkatkan kemampuan para guru. Baik guru mata pelajaran, maupun guru BK. Selain itu meningkatkan pengawasan-pengawasan terhadap para siswa. Upaya nyata yang dilakukan oleh BK untuk mengantisipasi masalah terhadap para siswanya adalah meningkatkan iman dan taqwa para siswa. Diataranya dengan cara pemugaran masjid sekolah agar lebih nayaman untuk melakukan kegoatan keagamaan seperti shalat. Selain itu penyulhan-penyuluhan juga semakin diintensifkan agar bisa lebih dalam menanamkan nilai-nilai yang baik yaitu untuk selalu menahan diri, tidak mudah terprovokasi agar tidak terlibat tawuran antar pelajar yang semakin marak terjadi.






BAB III
PENUTUP
Bk sangat penting pada lembaga pendidikan formal seperti SMP dan SMA. Hal ini dimaksudkan agar para siswa bisa mengoptimalkan perkembangna siswa  dan siswa mampu meraih pestasi yang bagus sesuai dengan bakat dan yang dimiliki.
Begitu juga BK di SMP Muhamadyiah 3 Depok yang selalu senantiasa membantu para siswanya untuk meraih perkembangan yang optimalkan sesuai dengan bakat yang mereka miliki. Dalam upayanya membantu siswa, BK di SMP Muhamadiyah 3 Yogyakarta tidak hanya berusaha menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi oleh para siswanya, namun juga melakukan upaya-upaya pencegahan terjadinya masalah agar tidak terjadi kepada siswanya. Diantarnya yaitu dengan lebih menciptakan suasana kekeluargaan dan pertemanan dengan siswa. Agar para siswa tidak segan-segan untuk bekonsultasi dengan BK.

Teori


TEORI-TEORI KOMUNIKASI

1. Teori Model Lasswell
Salah satu teoritikus komunikasi massa yang pertama dan paling terkenal adalah Harold Lasswell, dalam artikel klasiknya tahun 1948 mengemukakan model komunikasi yang sederhana dan sering dikutif banyak orang yakni: Siapa (Who), berbicara apa (Says what), dalam saluran yang mana (in which channel), kepada siapa (to whom) dan pengaruh seperti apa (what that effect) (Littlejhon, 1996).

2. Teori Komunikasi dua tahap dan pengaruh antar pribadi
Teori ini berawal dari hasil penelitian Paul Lazarsfeld dkk mengenai efek media massa dalam kampanye pemilihan umum tahun 1940. Studi ini dilakukan dengan asumsi bahwa proses stimulus bekerja dalam menghasilkan efek media massa. Namun hasil penelitian menunjukan sebaliknya. Efek media massa ternyata rendah dan asumsi stimulus respon tidak cukup menggambarkan realitas audience media massa dalam penyebaran arus informasi dan menentukan pendapat umum.

3. Teori Informasi atau Matematis
Salah satu teori komunikasi klasik yang sangat mempengaruhi teori-teori komunikasi selanjutnya adalah teori informasi atau teori matematis. Teori ini merupakan bentuk penjabaran dari karya Claude Shannon dan Warren Weaver (1949, Weaver. 1949 b), Mathematical Theory of Communication.
Teori ini melihat komunikasi sebagai fenomena mekanistis, matematis, dan informatif: komunikasi sebagai transmisi pesan dan bagaimana transmitter menggunakan saluran dan media komunikasi. Ini merupakan salah satu contoh gamblang dari mazhab proses yang mana melihat kode sebagai sarana untuk mengonstruksi pesan dan menerjemahkannya (encoding dan decoding). Titik perhatiannya terletak pada akurasi dan efisiensi proses. Proses yang dimaksud adalah komunikasi seorang pribadi yang bagaimana ia mempengaruhi tingkah laku atau state of mind pribadi yang lain. Jika efek yang ditimbulkan tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka mazhab ini cenderung berbicara tentang kegagalan komunikasi. Ia melihat ke tahap-tahap dalam komunikasi tersebut untuk mengetahui di mana letak kegagalannya. Selain itu, mazhab proses juga cenderung mempergunakan ilmu-ilmu sosial, terutama psikologi dan sosiologi, dan cenderung memusatkan dirinya pada tindakan komunikasi.
Karya Shannon dan Weaver ini kemudian banyak berkembang setelah Perang Dunia II di Bell Telephone Laboratories di Amerika Serikat mengingat Shannon sendiri adalah insiyiur di sana yang berkepentingan atas penyampaian pesan yang cermat melalui telepon. Kemudian Weaver mengembangkan konsep Shannon ini untuk diterapkan pada semua bentuk komunikasi. Titik kajian utamanya adalah bagaimana menentukan cara di mana saluran (channel) komunikasi digunakan secara sangat efisien. Menurut mereka, saluran utama dalam komunikasi yang dimaksud adalah kabel telepon dan gelombang radio.
Latar belakang keahlian teknik dan matematik Shannon dan Weaver ini tampak dalam penekanan mereka. Misalnya, dalam suatu sistem telepon, faktor yang terpenting dalam keberhasilan komunikasi adalah bukan pada pesan atau makna yang disampaikan-seperti pada mazhab semiotika, tetapi lebih pada berapa jumlah sinyal yang diterima dam proses transmisi.
Penjelasan Teori Informasi Secara Epistemologi, Ontologi, dan Aksiologi
Teori informasi ini menitikberatkan titik perhatiannya pada sejumlah sinyal yang lewat melalui saluran atau media dalam proses komunikasi. Ini sangat berguna pada pengaplikasian sistem elektrik dewasa ini yang mendesain transmitter, receiver, dan code untuk memudahkan efisiensi informasi.

4. Teori Pengharapan Nilai (The Expectacy-Value Theory)
Phillip Palmgreen berusaha mengatasi kurangnya unsur kelekatan yang ada di dalam teori uses and gratification dengan menciptakan suatu teori yang disebutnya sebagai expectance-value theory (teori pengharapan nilai).
Dalam kerangka pemikiran teori ini, kepuasan yang Anda cari dari media ditentukan oleh sikap Anda terhadap media --kepercayaan Anda tentang apa yang suatu medium dapat berikan kepada Anda dan evaluasi Anda tentang bahan tersebut. Sebagai contoh, jika Anda percaya bahwa situated comedy (sitcoms), seperti Bajaj Bajuri menyediakan hiburan dan Anda senang dihibur, Anda akan mencari kepuasan terhadap kebutuhan hiburan Anda dengan menyaksikan sitcoms. Jika, pada sisi lain, Anda percaya bahwa sitcoms menyediakan suatu pandangan hidup yang tak realistis dan Anda tidak menyukai hal seperti ini Anda akan menghindari untuk melihatnya.

5. Teori Ketergantungan (Dependency Theory)
Teori ketergantungan terhadap media mula-mula diutarakan oleh Sandra Ball-Rokeach dan Melvin Defleur. Seperti teori uses and gratifications, pendekatan ini juga menolak asumsi kausal dari awal hipotesis penguatan. Untuk mengatasi kelemahan ini, pengarang ini mengambil suatu pendekatan sistem yang lebih jauh. Di dalam model mereka mereka mengusulkan suatu relasi yang bersifat integral antara pendengar, media. dan sistem sosial yang lebih besar.
Sejalan dengan apa yang dikatakan oleh teori uses and gratifications, teori ini memprediksikan bahwa khalayak tergantung kepada informasi yang berasal dari media massa dalam rangka memenuhi kebutuhan khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media massa. Namun perlu digarisbawahi bahwa khalayak tidak memiliki ketergantungan yang sama terhadap semua media.
Sumber ketergantungan yang kedua adalah kondisi sosial. Model ini menunjukkan sistem media dan institusi sosial itu saling berhubungan dengan khalayak dalam menciptakan kebutuhan dan minat. Pada gilirannya hal ini akan mempengaruhi khalayak untuk memilih berbagai media, sehingga bukan sumber media massa yang menciptakan ketergantungan, melainkan kondisi sosial.
Untuk mengukur efek yang ditimbulkan media massa terhadap khalayak, ada beberapa metode yang dapat digunakan, yaitu riset eksperimen, survey dan riset etnografi.

Riset Eksperimen
Riset eksperimen (experimental research) merupakan pengujian terhadap efek media dibawah kondisi yang dikontrol secara hati-hati. Walaupun penelitian yang menggunakan riset eksperimen tidak mewakili angka statistik secara keseluruhan, namun setidaknya hal ini bisa diantisipasi dengan membagi obyek penelitian ke dalam dua tipe yang berada dalam kondisi yang berbeda.
Riset eksperimen yang paling berpengaruh dilakukan oleh Albert Bandura dan rekan-rekannya di Stanford University pada tahun 1965. Mereka meneliti efek kekerasan yang ditimbulkan oleh tayangan sebuah film pendek terhadap anak-anak. Mereka membagi anak-anak tersebut ke dalam tiga kelompok dan menyediakan boneka Bobo Doll, sebuah boneka yang terbuat dari plastik, di setiap ruangan. Kelompok pertama melihat tayangan yang berisi adegan kekerasan berulang-ulang, kelompok kedua hanya melihat sebentar dan kelompok ketiga tidak melihat sama sekali.
Ternyata setelah menonton, kelompok pertama cenderung lebih agresif dengan melakukan tindakan vandalisme terhadap boneka Bobo Doll dibandingkan dengan kelompok kedua dan ketiga. Hal ini membuktikan bahwa media massa memiliki peran membentuk karakter khalayaknya.
Kelemahan metode ini adalah berkaitan dengan generalisasi dari hasil penelitian, karena sampel yang diteliti sangat sedikit, sehingga sering muncul pertanyaan mengenai tingkat kemampuannya untuk diterapkan dalam kehidupan nyata (generalizability). Kelemahan ini kemudian sering diusahan untuk diminimalisir dengan pembuatan kondisi yang dibuat serupa mungkin dengan keadaan di dunia nyata atau yang biasa dikenal sebagai ecological validity Straubhaar dan Larose, 1997 :415).

Survey
Metode survey sangat populer dewasa ini, terutama kemanfaatannya untuk dimanfaatkan sebagai metode dasar dalam polling mengenai opini publik. Metode survey lebih memiliki kemampuan dalam generalisasi terhadap hasil riset daripada riset eksperimen karena sampelnya yang lebih representatif dari populasi yang lebih besar. Selain itu, survey dapat mengungkap lebih banyak faktor daripada manipulasi eksperimen, seperti larangan untuk menonton tayangan kekerasan seksual di televisi dan faktor agama. Hal ini akan diperjelas dengan contoh berikut.

Riset Ethnografi
Riset etnografi (ethnografic research) mencoba melihat efek media secara lebih alamiah dalam waktu dan tempat tertentu. Metode ini berasal dari antropologi yang melihat media massa dan khalayak secara menyeluruh (holistic), sehingga tentu saja relatif membutuhkan waktu yang lama dalam aplikasi penelitian.


6. Teori Agenda Setting
Agenda-setting diperkenalkan oleh McCombs dan DL Shaw (1972). Asumsi teori ini adalah bahwa jika media memberi tekanan pada suatu peristiwa, maka media itu akan mempengaruhi khalayak untuk menganggapnya penting. Jadi apa yang dianggap penting media, maka penting juga bagi masyarakat. Dalam hal ini media diasumsikan memiliki efek yang sangat kuat, terutama karena asumsi ini berkaitan dengan proses belajar bukan dengan perubahan sikap dan pendapat.
7. Teori Dependensi Efek Komunikasi Massa
Teori ini dikembangkan oleh Sandra Ball-Rokeachdan Melvin L. DeFluer (1976), yang memfokuskan pada kondisi struktural suatu masyarakat yang mengatur kecenderungan terjadinya suatu efek media massa. Teori ini berangkat dari sifat masyarakat modern, diamana media massa diangap sebagai sistem informasi yang memiliki peran penting dalam proses memelihara, perubahan, dan konflik pada tataran masyarakat,kelompok, dan individu dalam aktivitas sosial. Secara ringkas kajian terhadap efek tersebut dapat dirumuskan dapat dirumuskan sebagai berikut:
1.      Kognitif, menciptakan atau menghilangkan ambiguitas, pembentukan sikap, agenda-setting, perluasan sistem keyakinan masyarakat, penegasan/ penjelasan nilai-nilai.
2.      Afektif, menciptakan ketakutan atau kecemasan, dan meningkatkan atau menurunkan dukungan moral.
3.      3. Behavioral, mengaktifkan atau menggerakkan atau meredakan, pembentukan isu tertentu atau penyelesaiannya, menjangkau atau menyediakan strategi untuk suatu aktivitas serta menyebabkan perilaku dermawan.

8. Teori Uses and Gratifications (Kegunaan dan Kepuasan)
Teori ini pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan Elihu Katz (1974). Teori ini mengatakan bahwa pengguna media memainkan peran aktif untuk memilih dan menggunakan media tersebut. Dengan kata lain, pengguna media adalah pihak yang aktif dalam proses komunikasi. Pengguna media berusaha mencari sumber media yang paling baik di dalam usaha memenhi kebutuhannya. Artinya pengguna media mempunyai pilihan alternatif untuk memuaskan kebutuhannya.
Elemen dasar yang mendasari pendekatan teori ini (Karl dalam Bungin, 2007): (1) Kebutuhan dasar tertentu, dalam interaksinya dengan (2) berbagai kombinasi antara intra dan ekstra individu, dan juga dengan (3) struktur masyarakat, termasuk struktur media, menghasilkan (4) berbagai percampuran personal individu, dan (5) persepsi mengenai solusi bagi persoalan tersebut, yang menghasilkan (6) berbagai motif untuk mencari pemenuhan atau penyelesaian persoalan, yang menghasikan (7) perbedaan pola konsumsi media dan ( perbedaan pola perilaku lainnya, yang menyebabkan (9) perbedaan pola konsumsi, yang dapat memengaruhi (10) kombinasi karakteristik intra dan ekstra individu, sekaligus akan memengaruhi pula (11) struktur media dan berbagai struktur politik, kultural, dan ekonomi dalam masyarakat.

9. Teori The Spiral of Silence
Teori the spiral of silence (spiral keheningan) dikemukakan oleh Elizabeth Noelle-Neuman (1976), berkaitan dengan pertanyaan bagaimana terbentuknya pendapat umum. Teori ini menjelaskan bahwa terbentuknya pendapat umum ditentukan oleh suatu proses saling mempengaruhi antara komunikasi massa, komunikasi antar pribadi, dan persepsi individu tentang pendapatnya dalam hubungannya dengan pendapat orang-orang lain dalam masyarakat.

10. Teori Konstruksi sosial media massa
Gagasan awal dari teori ini adalah untuk mengoreki teori konstruksi sosial atas realitas yang dibangun oleh Peter L Berrger dan Thomas Luckmann (1966, The social construction of reality. A Treatise in the sociology of knowledge. Tafsir sosial atas kenyataan: sebuah risalah tentang sosisologi pengetahuan). Mereka menulis tentang konstruksi sosial atas realitas sosial dibangun secara simultan melalui tiga proses, yaitu eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. Proses simultan ini terjadi antara individu satu dengan lainnya di dalam masyrakat. Bangunan realitas yang tercipta karena proses sosial tersebut adalah objektif, subjektif, dan simbolis atau intersubjektif.

11. Teori Difusi Inovasi
Teori difusi yang paling terkemuka dikemukakan oleh Everett Rogers dan para koleganya. Rogers menyajikan deksripsi yang menarik mengenai mengenai penyebaran dengan proses perubahan sosial, di mana terdiri dari penemuan, difusi (atau komunikasi), dan konsekwensi-konsekwensi. Perubahan seperti di atas dapat terjadi secara internal dari dalam kelompok atau secara eksternal melalui kontak dengan agen-agen perubahan dari dunia luar. Kontak mungkin terjadi secara spontan atau dari ketidaksengajaan, atau hasil dari rencana bagian dari agen-agen luar dalam waktu yang bervariasi, bisa pendek, namun seringkali memakan waktu lama.
Dalam difusi inovasi ini, satu ide mungkin memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dapat tersebar. Rogers menyatakan bahwa pada realisasinya, satu tujuan dari penelitian difusi adalah untuk menemukan sarana guna memperpendek keterlambatan ini. Setelah terselenggara, suatu inovasi akan mempunyai konsekuensi konsekuensi – mungkin mereka berfungsi atau tidak, langsung atau tidak langsung, nyata atau laten (Rogers dalam Littlejohn, 1996 : 336).
12. Teori Kultivasi

Program penelitian teoritis lain yang berhubungan dengan hasil sosiokultural komunikasi massa dilakukan George Garbner dan teman-temannya. Peneliti ini percaya bahwa karena televisi adalah pengalaman bersama dari semua orang, dan mempunyai pengaruh memberikan jalan bersama dalam memandang dunia. Televisi adalah bagian yang menyatu dengan kehidupan sehari-hari kita. Dramanya, iklannya, beritanya, dan acara lain membawa dunia yang relatif koheren dari kesan umum dan mengirimkan pesan ke setiap rumah. Televisi mengolah dari awal kelahiran predisposisi yang sama dan pilihan yang biasa diperoleh dari sumber primer lainnya. Hambatan sejarah yang turun temurun yaitu melek huruf dan mobilitas teratasi dengan keberadaan televisi. Televisi telah menjadi sumber umum utama dari sosialisasi dan informasi sehari-hari (kebanyakan dalam bentuk hiburan) dari populasi heterogen yang lainnya. Pola berulang dari pesan-pesan dan kesan yang diproduksi massal dari televisi membentuk arus utama dari lingkungan simbolis umum.

Garbner menamakan proses ini sebagai cultivation (kultivasi), karena televisi dipercaya dapat berperan sebagai agen penghomogen dalam kebudayaan. Teori kultivasi sangat menonjol dalam kajian mengenai dampak media televisi terhadap khalayak. Bagi Gerbner, dibandingkan media massa yang lain, televisi telah mendapatkan tempat yang sedemikian signifikan dalam kehidupan sehari-hari sehingga mendominasi “lingkungan simbolik” kita, dengan cara menggantikan pesannya tentang realitas bagi pengalaman pribadi dan sarana mengetahui dunia lainnya (McQuail, 1996 : 254)


Referensi :
·         Fisher, B. Aubrey, 1986, Teori-teori Komunikasi. Penyunting: Jalaluddin Rakhmat, Penerjemah: Soejono Trimo. Bandung: Remaja Rosdakarya.
·         Mulyana, Dedy, 2001, Metodologi Penelitian Kualitatif (Paradigma Baru Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya). Bandung: Remaja Rosdakarya

Laporan KKL Bali Desa Tenganan


BAB I
PENDAHULUAN
1.      LATAR BELAKANG
Tenganan adalah desa yang mempunyai keunikan sendiri di Bali, desa yang terletak cukup terpencil dan terletak di Kabupaten Karangasem. Untuk mencapai desa ini melalui jalan darat dan berjarak sekitar 60 km dari pusat kota Denpasar Bali. Desa ini sangat tradisional karena dapat bertahan dari arus perubahan jaman yang sangat cepat dari teknologi. Walaupun sarana dan prasarana seperti listrik dll masuk ke Desa Tenganan ini, tetapi rumah dan   adat tetap dipertahankan seperti aslinya yang tetap eksotik. Ini dikarenakan Masyarakat Tenganan mempunyai peraturan adat desa yang sangat kuat, yang mereka sebut dengan awig-awig yang sudah mereka tulis sejak abad 11 dan sudah diperbaharui pada Tahun 1842. Desa tenganan mempunyai luas area sekitar 1.500 hektar, ketika tempat wisata – wisata yang lain dibali berkembang pesat seperti Pantai Kuta, Pantai Amed, yang sangat meriah dengan kehadiran Hotel, Pantai, Café, dan kehidupan malamnya.
Desa Tenganan tetap saja berdiri kokoh tidak peduli dengan perubahan jaman dengan tetap bertahan dengan tiga balai desanya yang kusam dan rumah adat yang berderet yang sama persis satu dengan lainnya. Dan tidak hanya itu didesa ini keturunan juga dipertahankan dengan perkawinan antar sesama warga desa. Oleh karena itu Desa Tenganan tetap tradisional dan eksotik, walaupun Masyarakat Tenganan menerima masukan dari dunia luar tetapi tetap saja tidak akan cepat berubah, karena peraturan desa adat /awig-awig mempunyai peranan yang sangat penting terhadap masyarakat Desa Tenganan.
2.      Rumusan Masalah
a)      Apa saja tujuh unsur kebudayaan yang terdapat di desa Tenganan?
b)      Bagaimana perubahan sosial yang ada di masyarakat desa Tenganan?
c)      Dari segi apa saja yang mengalami perubahan sosial?














BAB II
KAJIAN TEORI
v  Etnografi
Mengenai kesatuan budaya suku bangsa di suatu komunitas daerah geografi, ekologi atu wilayah administrative merupakan suatu pokok diskripsi etnografi, biasanya ada unsure-unsur kebudayaan menurut tata urut yang sudah baku, yang kita sebut” Kerangka Etnografi”.[1] Sebuah karangan Etnografi maka di susun menurut Karangka Etnografi yang terdiri bab-bab seperti di bawah ini:[2]
1.      Lokasi dan Demografi
Menguraikan lokasi atau tempat tinggal menjadi poko dalam deskripsi etnografi, yaitu tentang cirri-ciri geografisnya. Suatu etnografi juga harus dilengkapi dengan data demografi, yaitu data tentang jumlah penduduk.
                                                       I.            Asal Mula dan Sejarah Suku Bngsa
Keterangan mengenai asal mula suku bangsa biasanya harus di cari dengan mengunakan tulisan para ahli prehistoris yang pernah melakukan pengalian dan analisis benda-benda kebudayaan. Dalam metologi, biasanya terdapat dongeng-dongeng yang menceritakan asal-usul suku bangsa.
                                                    II.            Bahasa
Tentang bahasa atau system pelambangan manusia yang lisan maupun tertulis umtuk berkomunikasi suatu engan yang lain, serta member diskripsi cirri-ciri bahasa yang diucapkan oleh suku bangsa yang bersangkutan beserta variasi-variasi dari bahasa tersebut
                                                 III.            System Mata Pencaharian
Dalam system mata pencaharian ahli antropologi menruh perhatiannya tertumpu pada system-sistem yang bersifat tradisional saja. System-sistem tersebut adalah: (1) berburu dan meramu, (2) berternak, (3) bercocok tanam di lading, (4) menangkap ikan, (5) bercocok tanam menetap dengan irigasi.
                                                 IV.            Sistem Teknolgi
Yaitu tantang teknolgi atau cara-cara memproduksi, memakai dan memelihara segala peralatan hidup darai suku bangsa.
                                                    V.            Sistem Religi
Dalam sitem Religi yang menjadi perhatian penting ada dua hal:
a)      Upacara keagamaan dalam kebudayaan suku bangsa merupakan unsure kebudayaan yang tampak paling lahir.
b)      Bahan etnografi mengenai upacara keagamaan di perlukan untuk menyusun teori tentang asal mula religi.
                                                 VI.            Organisasi Sosial
Dalam kehidupan masyarakat ada aturan-aturan mengenai kehidupan sehari-hari. Kesatuan yang paling dekat adalah system kekerbatan, kemudian ada system yang lebih luas yaitu system pemrintahan desa.
                                              VII.            System Pengetahuan
Para ahli antropologi sepakat bahwa setiap masyrakat, betapa kecilpun pasti tidak mungkin hidup tanpa pengetahuan, baik pengetahuan tentang alam sekelilingnya dan sifat-sifat dari perlatan yang di pakai.
                                           VIII.            Kesenian
Kesenian merupakan segala ekspresi hasrat manusia akan keindahan. Cara kesenian sebagai ekspresi hasrat manusia akan keindahan itu dinikmati, maka ada dua lapangan besar: (1) Seni Rupa, yaitu kesenian yang dinikmati dengan mata, (2) Seni Suara, kesenian yang dinikmati manusia denga  telingga.
v  PERUBAHAN SOSIAL
Perubahan sosial sebagai suatu proses perubahan bentuk yang mencakup keseluruhan aspek kehidupan masyarakat, baik secara alami maupun rekayasa soaial. Membahas tentang teori perubahan sosial August Comte (1798-1857) membagi dalam dua konsep penting, yaitu: Social Static (bangunan structural) dan Social Dynamics (dinamika Struktural). Bangunan structural merupakan hal-hal yang mapan, berupa struktur yang berlaku pada masa tertentu, membahas mengenai strutur sosial yang ada dalam masyarakat. Dan dinamika sosial merupakan hal-hal yang berubah dari suatu waktu ke waktu yang lain, membahas tentang dinamika sosial dari struktur yang berubah dari waktu ke waktu. Perubahan pada dinamika sosial yaitu perubahan sosial yang meliputi bagaimana kecepatan, arah, bentuk, agen (perantara), dan hambatanya.[3]
Ø  Pola perubahan sosial ada dua  macam:[4]
a)      Yang datang dari Negara (state), yaitu perubahan yang dikelola oleh pemerintah berorientasi pada ekonomi garis komando dating dari pusat
b)      Datang dari pasar bebas (free market), perubahan yang campur tangan dari pemerintah sangat sedikit, sehingga pasar bebas lebih dominan.
Bentuk-bentuk perubahan sosial di bedakan kedalam beberapa bentuk:[5]
                                i.            Perubahan Lambat dan Perubahan Cepat
Perubahan yang lambat biasa di sebut evolusi, perubahan ini memerlukan waktu yang lama. Perubahan ini terjadi karena usaha-usaha masyarkat untuk menyesuaikan diri dengan keadaan-keadaan yang baru. Perubahan cepat atau revolusi, perubahan ini menyangkut sendi-sendi pokok kehidupan masyrakat dan terjadinya dapat direncanakn terlebih dahulu atau tanpa rencana. Ukuran kecepatannya perubahan ini bersifat relative, karena dapat memekn waktu lama.
                              ii.            Perubahan Kecil dan Perubahan Besar
Batas-batas perubahan ini relatif, perubahan kecil adalah perubahan yang terjadi pada unsure-unsur struktur sosial yang tidak membawa pengaruh lansung atau berarti bagi masyarakat. Sebaliknya perubahan yang terjadi pada masyarakat agriris menjadi masyarakat industrialisasi misalnya, itu adal perubahan besar karena berpengaru pada masyarakat.
                            iii.            Perubahan yang Dikehendaki dan yang Tidak Dikehendaki
Perubahan yang dikehendaki merupakan perubahan yang diperkirakan oleh pihak-pihak yang hendak mengadakan perubahan dalam masyarakat. Dan perubahan yang tidak dikehendaki adalah perubahan yang terjadi tanpa kehendak, serta berlangsung diluar jangkauan pengawasan masyarakat dan dapat menyebabkan timbulnya akibat-kaibat sosial yang tidak diharapkan oleh masyarakat.
Dalam proses perubahan sosial di sana pasti ada factor-faktor yang menyebabkan perubahan sosial tersebut, adapun factor-faktornya adalah:
1)      Bertambah atau berkurangnya penduduk
2)      Penemuan-penemuan baru
3)      Pertentangan (conflict) Masyarakat
4)      Terjadinya Pemberontakan atau Revolusi
Suatu perubahan sosial dapat pula bersumber pada sebab-sebab yang bersal dari luar masyarakat  itu sendiri, anatara lain:
·         Sebab-sebab yang bersal dari lingkungan alam fisik yang ada di sekitar manusia
·         Peperangan
·         Pengaruh dari kebudayaan masyarakat lain
Dalam proses berjalanya perubahan sosial terdapat juga factor-factor yang mempengaruhinya:
Ø  Kontak dengan kebudayaan lain
Ø  System pendidikan formal yang maju
Ø  Sikap menghargai hasil karya seseorang dan keinginan-keinginan untuk maju
Ø  Toleransi terhadap perbuatan-perbuatan yang menyimpang yang merupakan delik
Ø  System terbuka lapisan masyarakat
Ø  Orientasi ke masa depan
Ø  Nilai bahwa manusia harus selalu berusaha untuk memperbaiki hidup[6]
v  STRUKTUR DAN PROSES SOSIAL
Struktur sosial adalah jalinan antara unsur-unsur sosial yang pokok yaitu, norma-norma sosial, lembaga sosial, kelompok sosial, dan lapisan sosial.
Raymond Firth, struktur sosial suatu pergaulan hidup manusia meliputi berbagai tipe kelompok yang terjadi dari banyak orang dan meliputi lembaga di dalam mana orang tersebut mengambil bagian[7]
Proses sosial adalah pengaruh timbal balik antara segi kehidupan, misal segi kehidupan ekonomi dengan politik, dll. Yang menjadi dasar dari proses sosial adalah interaksi sosial, yaitu kontak secara timbale balik atau inter-stimulasi dan respon antara individu-individu dan kelompok-kelompok. Yang menjadi unsur dasar interaksi sosial adalah adanya kontak dan komunikasi.[8]
Menurut Kimbal Young, syarat terjadinya interaksi sosial adalah:
Ø  Orang-perorangan dengan kelompok atau kelompok dengan orang-perorangan.
Ø  Kelompok dengan kelompok
Ø  Orang-perorangan
Cirri-ciri dari interaksi sosial menurut Charles P. Loomis:
·         Jumlah pelaku lebih dari satu orang
·         Ada komunikasi antar pelaku mengunakan symbol-simbol
·         Ada suatu dimensi waktu, meliputi masa lampau, kini dan akan dating yang menentukan sifat dari aksi yang berlangsung.
·         Ada tujuan-tujuan tertentu.
Sedangkan untuk bentuk-bentuk dari interaksi:  (1) kerja sama, (2) pertikain, (3) persaingan, dan (4) akomodasi.




 BAB III
PEMBAHASAN
v  Data Geografis
Tenganan adalah desa yang terletak cukup terpencil dan terletak di Kabupaten Karangasem. Untuk mencapai desa ini melalui jalan darat dan berjarak sekitar 60km dari pusat kota Denpasar Bali. luas wilayah desa Tenganan 917,5 H yang terdiri dari  8% pemukiman 22% saawah dan sisinya berupa tegalan. Desa tenganan mempunyai luas area sekitar 1.500 hektar. Di desa Tenganan data penduduk terdapat 210 kk, 664 penduduk dan 2822 jiwa.
Desa Adat Tenganan Pegringsingan sebuah desa dari masa Bali Kuno atau Bali Aga, yaitu sistem sosial budaya dari masa sebelum masa Majapahit yang dikenal dengan Bali Arya adalah sebuah desa yang berlokasi di suatu lembah yang memanjang dari Selatan sampai Utara di antara Bukit Kangin dan Bukit Kauh di Kecamatan Manggis, Kabupaten Karang Asem.
v  Tujuh Unsur Kebudayaan
a)      Sistem Mata Pencaharian
Masyarakat di desa Tenganan ini mayoritas sebagai petani, tapi mereka hanya sebagai tuan tanah atau pemilik tanah dan yang mengerjakan atau yang mengurusi sawah mereka orang lain dan biasanya orang itu berasal dari luar desa Tenganan.
b)     Sistem Kepercayaan
Masyarakat desa Tenganan beragama Hindhu Darma yang mana dewa yang di anut adalah sekte Indra. Dimana di desa Tenganan yang menaganut sekte indra ( ibu pertiwi)  maka untuk  proses pemakamannya dengan cara dikubur dengan posisi badan tertelungkup dan telanjang, ini dalam ajaran sekte indra mengambarkan bahwa bayi lahir, mati dan akan kembali ke bumi pertiwi. masyarakat Tenganan melakukan ritual keagamaan setiap hari untuk menjaga kemurnian rohani serta keseimbangan sosial desa. Adapun kegiatan yang paling terkenal dan menjadi pusat perhatian dalam bulan kelima adalah perang pandana mekare-kare (perisai)
c)      Bahasa
Di desa Tenganan bahasa yang mereka gunakan untuk percakapan sehari-hari adalah menggunakan bahasa jawa bali. Bahasa tersebut di bawa dari jawa ke bali pada masa kerajaan Majapahit.
d)     Kesenian
Makar-kare/perang yang bersenjatakan pandan berduri dan tameng rotan sebagai bagian dari ritual di siang hari, kesenian tersebut adalah sebagai penghormatan terhadap dewa yang menjadi kepercayaan di desa Tenganan dan kesenian tentang perang pandan mengambarkan tentang peperangan dewa mereka, dan para gadis berdoa di pura desa pukul 16.00 wita, perang ini di lakukan pada bulan ke lima. Makare-kare Patemu Tengah (atraksi paling ramai), diawali prosesi keliling desa bermain gamelan, tari Rejang dan tari Abwang. Mekare-kare diadakan pukul 11.00 wita yang bisa diikuti semua orang/orang asing dengan poin utama pada karakter gerak tari  dimana tidak ada menang atau kalah. Luka-luka akibat duel ini akan segera sembuh dengan pengobatan tradisional mereka. Acara ini merupakan rangkaian dari ritual dan menyanyikan kidung, penampilan tarian sakral Rejang dan Kris pukul 16.00 wita. Rangkaian prosesi diakhiri tari Rejang dan ritual di subak Daha pada pukul 21.00 wita.
Selain perang pandan, kesenian yang terdapat di desa Tenganan ada upacara “ metrune” upacara ini di lakukan untuk menandakan bahwa perempuan sudah dianggap dewasa tidak hanya secara fisik tetapi juga sifatnya. Dan setelah melakukan upacara ini perempuan tadi boleh melakukan perkawinan.
e)      Organisasi Sosial
Ø  Sistem Kekerabatan
Di masayarakat Tenganan di terdapat jenis-jenis dalam proses kekerabatan, terutama dalam perkawinan.
Adapun jenis – jenis perkawinan yaitu
a.       Kawin pinang, perkawinan ini dilakukan dengan orang tua yang meminang untuk anaknya yang akan menikah
b.      Blegadang, perkawinan ini adalah perkawinan yang di lakukan atas paksaan dari orang tua.
c.       Nganten yaitu perkawinan karena suka sama suka antara laki-laki dengan perempuan.
Ø  Sistem Pemerintahan
Tenganan di pimpin oleh seorang kepala desa bernama I Ketut Wardana, di sana terdapat tiga struktur pemerintahan:
                                                                                            i.            Kerama Desa
Terdiri dari 28 pasang suami istri, masyrakat Tengan yang dapat masuk ke dalam organisasi ini adalah pemuda atau pemudi yang menikah dengan sesame warga Tenganan.
                                                                                          ii.            Bumi Desa
                                                                                        iii.            Kerama Bumi
Yang masuk dalam organisasi ini adalah seluruh masyarakat termasuk yang mengalami cacat fisik. Jabatan Kerama Desa, waktunya dapat dikatakan tidak menentu, dan syarat seseorang lengser dari Kerama Bumi apabila:
·         Meninggal
·         Poligami
·         Salah satu anaknya menikah, keanggotaan kerama desa tidak diperbolehkan ada keanggotaan rangkap dalam satu keluarga. Sehingga apabila salah seorang anaknya menikah dan berkeluarga, sedangkan bapak ibunya merupakan anggota Kerama Desa, maka jabatannya akan lengser dan berubah menjadi “ Bumi Pulangan
f)       Sistem Pengetahuan
Tenganan terdapat Balai panjang atau dalam bahasa jawa di sebut pesantren, itu berfungsi untuk tempat belajar para anak-anak di Tenganan tentang ilmu agama, dan para murid dibina oleh “ MEKEL” dalam bahasa jawa di sebut ustadz ,yaitu keturunan Pak Mangku ( orang yang ahli agama)
Seiring dengan perkembangan zaman, yang tadinya di masyarakat Tenganan hanya mengenal pendidikan di Balai Panjang, di sana sekarang sudah mengenal Pedidikan formal , untuk sekarang ini banyak anak-anak yang sudah menimba ilmu di perguruan-perguruan tinggi baik di bali maupun di jawa, seperti di Jakarta, Yogyakarta, dll.
g)      Sistem Teknologi
1)      Perumahan
Pola permukiman desa Tenganan Pegeringsingan, Karangsasem. Dengan awangan (Ruang Bersama Tradisi Bali Aga), rumah tinggal warga desa tersusun linier dari Utara-Selatan dengan pintu pekarangan/jelanan awang menghadap Barat atau Timur. Untuk memasukinya, mesti melewati awangan yaitu rangkaian halaman depan masing-masing pekarangan rumah tinggal. Awangan ini berundak-undak dengan lapisan batu kali ciri kebudayaan megalitik makin ke Utara makin tinggi. Batas awangan yang satu dengan awangan lainnya yang saling berhadapan adalah selokan air yang disebut boatan. Sedangkan sebagai batas halaman belakang masing-masing pekarangan rumah tinggal juga berupa selokan air selebar 1m - 1,5m yang disebut teba pisan. Jumlah awangan sebagai jalan membujur dari Utara ke Selatan adalah 3 buah yaitu awangan kauh (Barat) yang paling lebar dan berfungsi sebagai awangan utama didirikan paling banyak fasilitas umum (bangunan adat dan bangunan suci), awangan tengah,dan awangan kangin (Timur) (Hidratno).
2)      Pembuatan Kain Gerising atau kain songket.
Tenganan dikenal dengan kain tradisionalnya, Kamben Gringsing, yang memiliki arti “kain menyala” dan “melawan penyakit”. Satu set yang terdiri dari empat kain gringsing bisa memakan waktu delapan tahun untuk proses pembuatannya dan setiap potongnya dapat berharga Rp.32 juta Beberapa jenis kain gringsing bahkan tidak untuk dijual.
v  PERUBAHAN SOSIAL
A.    Perkawinan
 Adat setempat melarang masyarakat luar untuk menikah dengan masyarakat Tenganan. Sampai tahun 1925, pernikahan di Tenganan hanya boleh dilangsungkan dengan sesama masyarakat Tenganan. Akan tetapi, seiring dengan kemajuan zaman, lelaki Tenganan sudah diperbolehkan untuk menikah dengan wanita dari desa lain dengan kasta yang lebih tinggi tanpa harus kehilangan hak untuk tetap tinggal di Tenganan.
B.     Pendidikan
Pendidikan di desa Tenganan pada dulunya proses pendidikannya hanya berada pada Balai Panjang dalam istilah jawa biasa disebut pesantren yang mana dib alai panjang di asuh oleh “MEKEL” atau orang yang pintar dalam agama. Akan tetapi seiring dengan perkembangan zaman, sekarang ini para masyarakat desa Tenganan sudah banyak yang menempuh pendidikan formal dari SD-Perguruan tinggi, baik di bali maupun di luar bali, seperti di Yogyakarta, Jakarta, malang, dll.
C.    Pemukiman
Pola permukiman desa Tenganan Pegeringsingan, Karangsasem. Dengan awangan (Ruang Bersama Tradisi Bali Aga), rumah tinggal warga desa tersusun linier dari Utara-Selatan dengan pintu pekarangan/jelanan awang menghadap Barat atau Timur. Jumlah awangan sebagai jalan membujur dari Utara ke Selatan adalah 3 buah yaitu awangan kauh (Barat) yang paling lebar dan berfungsi sebagai awangan utama didirikan paling banyak fasilitas umum (bangunan adat dan bangunan suci), awangan tengah,dan awangan kangin (Timur) (Hidratno). Perubahan: dahulunya digunakan untuk menyimpan alat-alat upacara dan pertanian tapi sekarang Awangan digunakan untuk memajang barang dagangan.
Tengan pada masa lalu lebih mengutamakan pada kepentingan spiritual dan kebersamaan, hal tersebut tercermin pada rumah tinggal masyarakat. Sekarang ini sudah mulai bergeser kea rah kepentingan komersial dan pribadi. Dahulu dalam perkarangan masih terdiri beberapa unit bangunan dengan tataletak mengikuti tata nilai Tri Mandala, tetapi pada aktivitas sehari-hari terlihat adanya pengaburan fungsi dari bangunan tersebut. Sekarang ini, pada sebagian perkarangn terjadi perluasan dengan tujuan sebagai tempat menjual barang-barang kerajinan dan dimensi sakralnya sudah mulai hilang.

BAB IV
PENUTUP
·         KESIMPULAN
Dari hasil laporan di atas tentang desa Tenganan pengringsingan, bahwa desa tenganan mempunyai data etnografi yang cukup guna untuk kita dapat mengetahui tentang bagaimana kondisi geografis, data penduduk serta asal usul dari desa Tenganan. Selain mempunyai data Etnografi, guna melengkapinya, desa Tenganan juga mempunyai tujuh unsur kebudayaan, yang terdiri dari system mata pencaharian, bahasa, system pengetahuan, system kepercayaan, system teknologi, organisasi sosial, dan kesenian.
Tenganan terletak di daerah karang Asem , bali. Mayoritas penduduk Tenganan adalah petani. Agama desa tenagan adalah menganut agama hindu dengan sekte dewa indra (ibu pertiwi). Bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa bali jawa. Kesenian yang paling terkenal adalah kesenian tentang perang pandan, kesenian tersebut banyak di minati oleh para wisatawan-wisatawan. Dalam system pemerintahan di desa Tenganan di pimpin oleh I Ketut Wardana yang terbagi menjadi tiga struktur yaitu: kerama desa, bumi desa, dan kerama bumi, dan setiap struktu tersebut seseorang ketika akan menjadi mempunyai persaratan tertentu.
·         SARAN
Apabila dalam penyusunan laporan KKL di desa Tenganan ini banyak kekurangan dan kesalahan, kami selaku penulis mohon saran dan bimbingannya agar dalam penyusunan yang akan datang bisa lebih lengkap.








[1] Koentjaraningrat,1980, Pengantar Ilmu Antropologi, Jakarta: Aksara Baru. Hal: 346.
[2] Ibid, Hal: 348
[3] Salim, Agus, 2002, Perubahan Sosial Sketsa Teori dan Refleksi Metodologi Kasus Indonesia, Yogyakarta: PT Tiara Wacana. Hal: 9-10.
[4] Ibid, Hal : 13.
[5] Soekanto, Soerjono, 1982, Sosiologi Suatu Pengantar, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Hal: 269-273.
[6] Ibid,Hal:283-286
[7] Soleman L.Taneke, SH,1984, Struktur dan Proses Sosial Suatu  Pengantar Sosiologi Pembangunan, Jakarta: CV RAJAWALI, Hal: 47
[8] Ibid, Hal:109-112